Hari ini, 27 Oktober 2015, diperingati hari blogger Nasional. Buat teman-teman blogger, selamat yah! Semakin jaya selalu dan tetap menulis blog. Kira-kira sudah berkontribusi apa saja dengan blog pribadimu??
Sebuah kabar kurang mengenakkan menghampiri kami belakangan ini. Meski mungkin bagi sebagian orang hal ini dianggap angin lalu, bagi kami yang berkecimpung di dunia konten, ini adalah realita pahit yang harus dijadikan motivasi untuk melangkah ke depan. Salah satu raksasa teknologi yang namanya begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia baru saja meluncurkan produk terbarunya. Dalam kemeriahan acara yang tampak megah tersebut, ada sesuatu yang kami rasakan hilang. Sebuah peran yang dulu menjadi pilar utama pemasaran untuk membantu kampanye promosi, kini tak lagi terdengar gaungnya. Beberapa wajah yang hadir memang tampak familiar, namun rupanya identitas yang mereka bawa bukan lagi sebagai blogger yang selama ini kami kenal. Fenomena ini semakin mempertegas pergeseran di lingkaran tech-reviewer tanah air. Jika dulu peluncuran produk baru identik dengan kumpulnya para pemilik blog, kini kursi-kursi itu telah diisi oleh wajah-wajah baru dari balik layar vertikal. Ya, kita sedang membi...
Bulan Desember 2021 adalah kali pertama kami berkenalan dengan Republika Netizen atau disebut Retizen. Saat melihat websitenya, kami jadi ingat Blogdetik yang pernah meramaikan dunia perblogeran Tanah Air. Apakah kamu sudah mampir ke retizen? Andai Blogdetik masih ada, mungkin daftar platform blog lokal atau Indonesia menjadi tiga. Ada Kompasiana, Retizen dan Blogdetik yang tadi disebutkan. Tahun 2021 Platform dari Republika ini diluncurkan pertama kali pada bulan Juni 2021. Itu artinya terhitung baru. Namun jumlah penghuninya atau blogernya dikatakan dalam website msn.com (12/12/2021) , sudah ada puluhan ribu. Menarik jika begitu. Pantas halaman websitenya yang beralamat di retizen.republika.co.id sudah beragam artikelnya yang dipublish. Baru tahu Republika punya platform untuk blogger seperti Kompasiana yang disebut Retizen Diluncurkan pertama kali bulan Juni 2021 Cek https://t.co/loT5s2x8CA — #gablonesia (@LigaBloger) December 13, 2021 Blogger of the month Buat bloger lawas, R...
Pernah mendengar nama Substack ? Kami sendiri awalnya hanya mendengar samar-samar. Sampai akhirnya, perhatian kami tertuju pada seorang kenalan di platform X yang membagikan tautan tulisan dari sana. Jujur saja, kami sempat mengira kenalan tersebut sudah berhenti menulis karena jarang terlihat di blog pribadinya. Ternyata kami keliru; semangat menulisnya belum padam, hanya saja ia telah menemukan "rumah baru" yang lebih tenang untuk berekspresi. Fenomena ini menarik untuk diulas. Dunia konten hari ini terasa semakin menyesakkan bagi kita yang masih setia dengan deretan kata. Di tengah gempuran video pendek yang menuntut durasi cepat dan visual yang bombastis, semangat blogging seringkali terasa "mati suri". Kita lelah mengejar algoritma media sosial yang berubah-ubah, atau pusing dengan standar SEO yang kian kompetitif dan teknis. Namun, di tengah kebisingan itu, Substack muncul sebagai sekutu baru. Ia hadir bukan untuk menggantikan blog kesayangan kita, melainkan u...
Dunia blogging dan konten kreator Jawa Tengah kembali diselimuti awan duka. Sosok yang kami kenal baik, seorang pemberi inspirasi dari kota tetangga, Kendal, telah berpulang. Bagi sebagian dari kita yang sudah lama berkecimpung di komunitas, nama Zain mungkin sudah sangat melekat dengan blog setianya, Siklimis.com . Rasanya baru kemarin kami menutup kalender tahun lalu dengan tumpukan harapan. Namun, tepat setahun yang lalu di bulan yang sama, kami juga menuliskan catatan duka tentang kehilangan seorang rekan blogger . Tak disangka, Januari tahun ini kembali membawa kabar serupa—sebuah kabar yang memaksa kami sejenak berhenti dari rutinitas di depan layar. Sahabat kami, Zain Kagawa , telah mendahului kita semua. Ada rasa dejavu yang menyesakkan, namun terselip keikhlasan untuk melepas seorang pencerita yang jejaknya telah mewarnai jagat digital kita. Evolusi Sang Pencerita Dalam beberapa tahun terakhir, kami melihat Zain melakukan lompatan yang cukup berani. Ia tak lagi sekadar berma...
Pernah mendengar istilah Evergreen ? Dalam dunia blogging , istilah ini ibarat kuliner Tahu Gimbal atau Lumpia di Semarang—tak kenal musim, selalu dicari, dan tetap relevan dinikmati kapan saja. Mari kami bedah lebih dalam. Secara harfiah, evergreen berarti "selalu hijau", layaknya pohon pinus yang tak rontok daunnya meski musim gugur menyapa. Dalam konteks konten, ini adalah jenis tulisan yang tidak memiliki tanggal kedaluwarsa. Kami pun baru-baru ini mendalami istilah ini secara serius. Jika bagi Anda ini hal lama, tentu akan mudah bagi kami untuk menuliskannya kembali. Namun jika baru mendengar seperti kami, halaman ini mungkin akan sangat berguna. Relevansi Jangka Panjang Berbeda dengan berita atau tren viral yang meledak hari ini lalu basi esok pagi, konten evergreen tetap memberikan nilai bagi pembaca meski mereka menemukannya dua atau tiga tahun dari sekarang. Contoh Non-Evergreen: "Jadwal Film di Paragon Mall Februari 2026." (Bulan depan sudah tidak relev...
Selamat Tahun Baru 2026, para pejuang kanal pribadi. Akhirnya kami bisa menyapa kembali, semoga tidak terlambat untuk merayakan awal yang baru ini. Bagaimana dengan resolusi blogging kalian tahun ini? Jika belum sempat terangkum, coba tuliskan perlahan. Biarkan tulisan itu menjadi kompas yang menuntun langkah sepanjang tahun yang masih penuh misteri ini. Setiap tahun, pertanyaan klasik itu selalu mampir: Apakah blogging benar-benar akan mati? Apalagi di tahun 2026, saat teknologi seolah melesat tanpa rem. Tentu jawaban kami tetap sama: Tidak. Tulisan yang sedang kalian baca ini adalah buktinya, dan di sinilah kami masih memilih untuk tetap berdiri. Kami harus jujur, lanskap digital hari ini memang sudah jauh berbeda. Kabar burung tentang "kematian blog" makin kencang ditiupkan. Mesin-mesin pintar kini bisa menjawab apa saja dalam hitungan detik, sementara video singkat hilir mudik di layar ponsel tanpa henti, berebut perhatian yang kian tipis. Rasanya seperti kami sedang me...
Semarang, akhir Februari 2026. Dini hari yang tenang ditemani kepulan uap kopi yang mulai mendingin, kami mendapati diri kami termangu di depan layar. Biasanya, bulan ini adalah bulan perayaan. Bulan di mana kami memberikan ucapan selamat untuk salah satu pilar literasi digital di Kota Lumpia: Gandjel Rel (GR) . Namun ada yang berbeda tahun ini. Mana keriuhan ucapan selamat ulang tahun yang biasanya sudah riuh menjelang tanggal 22 Februari? Beberapa pendiri yang kami kenal seakan sedang dalam fase khidmat, lebih sunyi ketimbang tahun lalu yang jauh lebih ceria. Bahkan, akun resmi Instagram Gandjel Rel pun tampak landai, tanpa suasana selebrasi yang mencolok. Rasa penasaran kami akhirnya terjawab saat Mbak Rahmi, salah satu pendiri komunitas, menyapa melalui komentar di WhatsApp Stories kami. Obrolan santai itu pun bermuara pada satu pertanyaan: apa yang sebenarnya sedang terjadi di internal komunitas? Mengapa tidak ada kemeriahan seperti biasanya? Kami kemudian diarahkan untuk melihat...
Wah, tulisannya singkat dan padat banged. Selamat hari blogger nasional 2015. Tetap semangad ngeblog ya Kaka... :-)
BalasHapusSelamat!!! :D
Hapus