🛤️ 11 Tahun Gandjel Rel: Menolak Bubar di Tengah Kepungan Algoritma dan Media Sosial

Semarang, akhir Februari 2026. Dini hari yang tenang ditemani kepulan uap kopi yang mulai mendingin, kami mendapati diri kami termangu di depan layar. Biasanya, bulan ini adalah bulan perayaan. Bulan di mana kami memberikan ucapan selamat untuk salah satu pilar literasi digital di Kota Lumpia: Gandjel Rel (GR).

Namun ada yang berbeda tahun ini. Mana keriuhan ucapan selamat ulang tahun yang biasanya sudah riuh menjelang tanggal 22 Februari? Beberapa pendiri yang kami kenal seakan sedang dalam fase khidmat, lebih sunyi ketimbang tahun lalu yang jauh lebih ceria. Bahkan, akun resmi Instagram Gandjel Rel pun tampak landai, tanpa suasana selebrasi yang mencolok.

Rasa penasaran kami akhirnya terjawab saat Mbak Rahmi, salah satu pendiri komunitas, menyapa melalui komentar di WhatsApp Stories kami. Obrolan santai itu pun bermuara pada satu pertanyaan: apa yang sebenarnya sedang terjadi di internal komunitas? Mengapa tidak ada kemeriahan seperti biasanya?

Kami kemudian diarahkan untuk melihat blog resmi mereka. Rupanya, perayaan ulang tahun ke-11 sudah dilakukan lebih awal, dan cerita di baliknya justru jauh dari kata "pesta".

Realitas yang Menampar: Antara Optimisme dan Ancaman Bubar

Saat kami menyambangi postingan terbaru di gandjelrel.com, kami cukup terkejut dengan judul yang diusung. Sangat kontras dengan perayaan satu dekade tahun lalu yang begitu gegap gempita. Kala itu, ada optimisme yang membumbung tinggi, kolaborasi dengan brand teknologi besar, hingga lomba blog yang berhasil membangkitkan gairah menulis.

Namun, membaca tajuk "Ngeblog Sudah Jarang, GR Siap Bubar?", rasanya seperti tersiram air es di tengah teriknya Simpang Lima. Sebuah kejujuran yang menampar.

Kami harus realistis. Di tahun 2026 ini, lanskap digital memang sudah berubah total. Media sosial semakin bising, konten video singkat semakin adiktif, dan raksasa media online dengan pasukan SEO-nya seolah menjajah halaman pertama mesin pencari tanpa sisa. Di titik ini, kegelisahan para GRes (sebutan anggotanya) sangat bisa dipahami. Buat apa menulis panjang lebar jika akhirnya tenggelam dan tak terbaca?

Mbak Uniek Kaswarganti dengan lugas menyebut soal menipisnya peluang "cuan" dari blog saat ini. Ini adalah fakta pahit yang perlu didengar. Kita tidak bisa lagi membohongi diri bahwa blog masih menjadi ladang emas seperti sepuluh tahun lalu.

Bukan Sekadar Angka, Blog Adalah Perpustakaan Rasa

Namun, di tengah diskusi yang sempat menyinggung opsi "bubar" itu, kami menemukan sesuatu yang tetap hangat. Kami tersentuh membaca alasan Mbak Wahyu Suwarsi yang memilih tetap menulis demi menjaga daya ingat dan mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat. Di sinilah letak "nyawa" yang tidak dimiliki oleh media online raksasa mana pun.

Media besar boleh punya ribuan artikel yang diproduksi AI dalam sekejap, tapi mereka tidak punya rasa "ngganjel" yang tulus. Mereka tidak punya sejarah kopdar yang penuh tawa, dan mereka tidak punya kedekatan emosional yang telah dirawat selama 11 tahun.

Bagi kami, blog adalah perpustakaan rasa. Tempat di mana kita bisa menjadi diri sendiri tanpa harus tunduk pada clickbait atau tuntutan durasi video yang hanya belasan detik.

Jangan Bubar Dulu, Rel!

Sebagai kawan lama yang selalu memantau perkembangan komunitas di Semarang dari kejauhan, kami ingin berbisik: Jangan bubar dulu.

Mungkin frekuensi tulisan tidak perlu lagi sepadat dulu. Mungkin tidak perlu lagi mengejar angka kunjungan yang muluk-muluk atau validasi dari algoritma. Cukuplah kembali ke khitah awal: Ngeblog Ben Rak Ngganjel.

Menulislah untuk diri sendiri, untuk menjaga kesehatan mental, dan untuk mendokumentasikan jejak langkah kaki kita di kota ini. Kota Semarang masih butuh "Rel" yang kuat seperti ini. Karena ketika semua orang sibuk berteriak di media sosial, kami masih butuh tempat yang tenang untuk sekadar duduk dan membaca sebuah cerita yang ditulis dengan hati.

Selamat ulang tahun ke-11, Gandjel Rel. Teruslah meluncur, meski jalurnya kian menanjak. Sebab bagi kami, jejak kalian adalah sejarah literasi Semarang yang tak boleh padam begitu saja.

📝 Gambar dari postingan di blog gandjelrel.com.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

✍️ Blogging Mati di Tahun 2026? Saatnya Menulis dengan Hati, Bukan Sekadar Kata Kunci

Kabar Baik Buat Bloger Tahun 2025? Google Masih Populer Menurut Cloudflare

🏆 Blogger of the Year 2025: Sebuah Refleksi di Penghujung Tahun

Bitly Batasi 10 Ribu Link Tiap Bulan Untuk Pengguna Gratisan

🌿 Blog Evergreen: Mengapa Navigasi Konten yang Awet Lebih Berharga Daripada Sekadar Viral Sesaat

Pengenalan Fitur Beta Baru Blogger: Pratinjau Google Penelusuran